--> DOCUMENT MASNET QUR'AN

Puisi Duka Andalusi


Andalus, 898 H/1492 M
Sejarah adalah sebuah pendewasaan bagi siapa saja yang menyelaminya. Di dalamnya ada kebahagiaan, masa gemilang dan kenangan manis sebuah peradaban. Namun di dalamnya juga ada keruntuhan dan air mata kepedihan. Berputarnya roda kehidupan membuat wajah dunia berbeda dari masa ke masa. Namun satu hal yang paling berharga, yaitu bagaimana manusia masa lalu mengajarkan kepada kita sesuatu yang luar biasa. Bahwa “manusia tidak pantas untuk terperosok ke dalam lubang yang sama”.
Mereka-manusia-manusia lampau- tentu menyadari bahwa kabar mereka akan terbang melayang jauh. Jauh di kemudian hari. Serentak tentunya dahulu mereka berharap, bilamana terpenggal dan kalah dalam pertempuran maka tetesan darah mereka harus mampu tuliskan ‘surat cinta’ kepada penerus di masa depan. Surat cinta berisikan pesan yang berbunyi “jangan sampai kalian berbuat tolol seperti yang telah kami lakukan!!”. Itulah sejarah. Yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berani berkaca dan belajar banyak dari pengalaman.
Malam ini saya bernostalgia. Nostalgia penuh duka bersama bait-bait sang pujangga. Bait-bait yang bercerita tentang masa di mana seolah singa dikutuk menjadi kucing dan banteng gagah mendadak menjadi seekor domba. Sebuah masa keruntuhan yang ditangisi Abul Baqo’ ar-Rundy bersama segenap umat Islam sedunia sejak dahulu hingga kini; Masa keruntuhan negeri Andalus di tangan pasukan salibiyah.
Sang pujangga (Abul Baqo’ ar-Rundy -601 H-) berteriak mengiba dalam bait-baitnya:
2.jpg
gabung-23.jpg
Segala yang beranjak sempurna kan berkurang pada akhirnya
Maka jangan manusia terperdaya oleh indahnya perhiasan dunia

Kau saksikan segalanya bagai roda yang berputar
Bahagia suatu kala dan sengsara selepas itu semua

Sungguh dunia tak ‘kan sisakan suatu apa pun
Tiada kekal di dalamnya satu urusan pun

Mana raja-raja bermahkota dari Yaman?
Mana yang dahulu bermahkota menyilaukan?

Mana pula istana yang dibangun kaum Iram?
Mana benteng Persia yang dibangun siang dan malam?


Ketentuan yang tak tertolak telah menimpa semua itu
Hingga segalanya bagai tak pernah ada


Oh Andalus.. Derita itu kini menimpamu
Gunung Uhud pun roboh dan gunung Sahlan hancur mendengar kisahmu

Islam kini menangis hingga tak sadarkan diri
Bagai tangis kekasih yang ditinggal mati

Seketika Islam diusir dari rumah-rumah itu
Diganti kekufuran yang penuhi setiap ruang

Ketika masjid dahulu kini jadi gereja
Tiada lain di dalamnya kecuali salib dan lonceng-lonceng

Mihrab-mihrab itu menangis tersedu padahal ia adalah batu
Mimbar-mimbar itu bersenandung puisi duka padahal ia adalah kayu

Sungguh pahit semua ini meluluhkan segala hati
Seandainya Islam dan Iman masih bersemayam dalam nurani
Lihatlah! Negeri Andalus yang dahulunya adalah pusat peradaban di masa kejayaan Islam seketika itu hancur mengenaskan. Tak lain dan tak bukan; Akibat dari keteledoran umat ini sendiri. Ketika keimanan kian menipis, kebodohan terpelihara, hawa nafsu naiki singgasana. Tak bisa kita tunggu waktu untuk merubah semua kehinaan ini.
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Ra’d : 11)

No comments:

Post a Comment